WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Jumat, 08 April 2011

UPAYA PEMBELAJARAN DENGAN METODEBERPIKIR REFLEKTIF UNTUK MENINGKATKANMOTIVASI BELAJAR SISWA MATEMATIKA(PTK SMK Muhammadiyah I ......


ABSTRAK
SUGENG RAHARJO, A 410 030 043, Jurusan Pendidikan Matematika,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Muhammadiyah Surakarta, 2007, 74 halaman.

Penelitian ini dilatar belakangi bahwa keberhasilan belajar tidak di
tentukan oleh guru saja, tapi kemampuan dasar siswa dan juga karena pasifnya
dalam belajar terutama belajar matematika. Masalah ini dibatasi pada berpikir
siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan, membuat kesimpulan materi
pelajaran, mengerjakan soal di depan kelas. Sedangkan motivasi siswa dibatasi
pada bertanya, mengerjakan soal-soal latihan, mengerjakan soal di depan kelas,
mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan guru.Tujuannya agar guru dalam
upaya pembelajaran matematika dengan metode berpikir reflektif dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Manfaatnya agar motivasi belajar siswa
kelas ID SMK Muhammadiyah I Surakarta dengan menggunakan metode berpikir
reflektif dapat tercapai. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK)
atau Classroom Action Research (CAR). Tempat Penelitian SMK Muhammadiyah
I Surakarta.Waktu penelitian pada bulan April-Mei 2007. Subyek penelitian
seluruh siswa kelas ID SMK Muhammadiyah I Surakarta. Peneliti dimulai dengan
dialog awal, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi.
Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, catatan lapangan,
dokumentasi. Instrumen penelitian melipuli pada pembelajaran matematika,
berpikir Reflektif, peningkatan, motivasi Siswa.Validitas data yang digunakan
adalah teknik triagulasi. Aktivitas belajar matematika siswa pada putara awal,
putaran I, putaran II, putaran III, ditunjukan pada berpikir dalam mengerjakan
soal-soal latihan ( 38,46 %, 48,64 % , 51,28 %, 52,5 % ), dalam membuat
kesimpulan pelajaran ( 33,33 %, 40,54 %, 41,02 %, 45 % ), dalam mengerjakan
soal di depan kelas ( 12,82 %, 13,51 %, 20,51 %, 22,5 % ), Sedangkan motivasi
siswa ditunujukan dalam bertanya ( 0 %, 2,70 %, 2,56 % , 5,12 % ), mengerjakan
latihan soal ( 51,28 %, 67,56 % ,76,92 %, 80 % ), mengerjakan soal di depan
kelas ( 12,82 %, 13,51 %, 20,51 %, 22,5 % ), mengemukakan pendapat ( 2,56 %,
5,40, 5,12 %, 7,5 % ), menjawab pertanyaan guru ( 12,82 %, 13,51 %, 20,51 %,
22,5 % ). Analisis data dilakukan dengan metode alur yang menunjukan terjadinya
peningkatan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar ucapan-ucapan
yang mengajak agar orang selalu mempergunakan pikiranya dalam
kehidupannya. Setiap orang tua sering mengharapkan agar putra putrinya di
sekolah belajar dan diajarkan berpikir sendiri, sebab pada umumnya belajar
berpikir membukakan pintu yang luas untuk belajar selanjutnya.
Banyak orang menghendaki agar anak-anaknya belajar berpikir dengan
baik dalam menilai dan menyimpulkan problema-problema yang di hadapi dan
sekolah-sekolah hendaklah merupakan pusat pembinaan berpikir secara
kontinu.
Keyakinan selalu dinyatakan lebih dalam daripada kata-kata yang
digunakan untuk mengekspresikan selain dari pada itu keyakinan yaitu kondisi
kemauan untuk bertindak, mungkin tak pernah diexspresikan sama sekali
dalam bentuk kata-kata mungkin hanya secara tak langsung atau samar-samar
saja.
Pola-pola keyakinan bukan hanya merupakan aspek-aspek
pengetahuan, tetapi juga sebagai bahan-bahan pondasi bagi terciptanya polapola
yang baru sering terjadi secara mendadak, terlepas dari refleksi. Mungkin
menimbulkan kesukaran berpikir, kesukaran ini menimbulkan aktifitas
reflektif seterusnya dan pada saat inilah pola-pola pengetahuan
direkontruksikan.
Setiap langkah baru mengandung suatu rekontruksi dari apa yang telah
di ketahui, namun tidaklah menggantikan tempat pengetahuan yang lama.
Usaha-usaha ilmiah ke arah kemajuan sesungguhnya lebih daripada sekedar
perubahan justru untuk mencapai tingkatan pengembangan dan pemanfaatan
proses berpikir kritis dan koreksi diri.
Keyakinan adalah suatu sikap, suatu sudut pandang, cara berpikir kita
tentang sesuatu. Kita membentuk sikap melalui pengetahuan dan pengalaman.
Lebih jauh kita biasa mengubah sikap kita memotivasi diri kita untuk
melakukannya.
Percaya pada diri kita sendiri merupakan kunci menuju kepercayaan
diri dan berpikir yang tenang dan pikiran bekerja dengan sangat baik ketika
pikiran tersebut tenang dan percaya diri. Kurangnya kepercayaan pada
hakekatnya adalah pikiran yang negatife yang tidak membawa ke baikan.
Tidak seorangpun kecuali kita yang bisa membuat kita percaya kepada
diri kita sendiri. Orang lain bisa membantu namun diri kitalah yang satusatunya
yang bisa menghasilkan rasa percaya diri tersebut, percaya pada diri
sendiri adalah merupakan dasar dari motivasi diri yang berhasil.
Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, kalau siswa tekun
mengerjakn tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan
secara mandiri. Siswa yang belajar dengan baik tidak akan terjebak pada suatu
yang rutinitis dan mekanis. Siswa juga harus mampu mempertahankan
pendapatnya, kalau ia sudah yakin dan dipandangnya sudah cukup rasional.
Bahkan lebih lanjut siswa harus juga peka responsif terhadap berbagai
masalah umum, dan bagimana memikirkan pemecahanya. Hal-hal itu semua
harus dipahami benar oleh guru, agar dalam berinteraksi dengan siswanya
dapat memberikan motivasi yang tepat dan optimal.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi terdalam kegiatan belajar, sehingga seseorang itu mau dan
ingin merelakan sesuatu dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha atau
mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh
faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang.
Dalam belajar sangat diperlukan motivasi. Hasil belajar akan optimal,
kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, maka makin
berhasil, pada pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiyasa menentukan
intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Motivasi juga bisa sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi.
Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi
yang baik dalam belajar akan menunjukan hasil yang baik. Dengan kata lain
bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya
motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang
baik. Intensitas motivasi sesorang akan sangat menentukan tingkat pencapaian
prestasi belajar.
B. Identifikasi Permasalahan
Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas muncul
beberapa masalah.
Yang berkaitan dengan pembelajaran matematika yaitu sebagai berikut:
1. Keberhasilan dalam pembelajaran matematika tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan guru untuk tercapai tujuan pembelajaran, tetapi kemampuan
dasar dan aktivitas belajar siswa juga mempengaruhi keberhasilan
pembelajaran matematika.
2. Aktivitas belajar siswa masih cenderung pasif dan kurang berani
mengajukan pertanyaan jika ada materi yang belum jelas, siswa kurang
aktif dalam mengerjakan latihan soal sendiri dan masih takut untuk
mengerjakan soal di depan kelas.
3. Dalam proses belajar mengajar guru kurang memperhatikan dalam
menggunakan metode yang sesuai pada pelajaran matematika.
C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas agar permasalahan yang dikaji dapat
terarah dan mendalam untuk masalah-masalah tersebut maka peneliti akan
membahas memfokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan sebagai
berikut:
1. Berpikir reflektif dibatasi pada peningkatan berpikir siswa dalam
menyelesaiakan soal-soal latihan, dalam membuat kesimpulan materi
pelajaran, dalam mengerjakan soal di depan kelas.
2. Motivasi siswa dibatasi pada motivasi siswa dalam bertanya, motivasi
siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan, motivasi siswa mengerjakan
soal di depan kelas, motivasi siswa dalam mengemukakan pendapat,
motivasi menjawab pertanyaan guru.
3. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas ID SMK Muhammadiyah I
Surakarta.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas,
akan dilaksanakan penelitian terhadap siswa kelas ID SMK Muhammadiyah I
Surakarta tahun ajaran 2006/2007 dengan merumuskan masalah sebagai
berikut:
”Apakah tindakan guru dalam upaya pembelajaran matematika dengan
metode berpikir reflektif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ? ”
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan proses
pembelajaran matematika melalui metode berpikir reflektif yang dilakukan
guru dan untuk mengetahui pembelajaran matematika siswa setelah
meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu juga untuk mengetahui
tindakan-tindakan yang dilakukan guru pada proses pembelajaran dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa.
Secara khusus, peneliti ini bertujuan untuk : “ Meningkatkan motivasi
belajar siswa kelas ID SMK Muhammadiyah I Surakarta dengan
menggunakan metode berpikir reflektif.”
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Secara Teoritis
a. Diharapkan dapat menambah pembendaharaan ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang pendidikan matematika.
b. Sebagai bahan acuhan dan bahan pertimbangan bagi penelitian
selanjutnya.
c. Memberi informasi kepada guru dan calon guru matematika untuk
lebih menekankan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
2. Secara praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi penulis dalam bidang pendidikan.
b. Sebagai sumbangan informasi-informasi baik pihak-pihak yang
berkepentingan khususnya sekolah dalam upaya pembelajaran dengan
metode berpikir reflektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar