WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Jumat, 08 April 2011

Pengaruh Pembelajaran MatematikaMelalui Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Prestasi Belajar(Eksperimen Pembelajaran Matematika di Kelas VIII......

ABSTRAK
Ika Cahya Kartika (A 410 010 109 )
Jurusan Pendidikan Matematika.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui : untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika melalui TGT terhadap hasil belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP 02 Sukolilo Pati Tahun Ajaran 2006/2007. Sampel yang diambil 64 siswa yang terbagi dalam dua kelas masingmasing kelas terdiri dari 32 siswa. Dengan teknik pengambilan sampel adalah
random sampling. Metode pengumpulan datanya adalah metode test dan dokumentasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimentasi dengan analisis datanya menggunakan statistik. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji beda mean dengan t-tes. Pengujian prasyarat analisis dilakukan dengan mengunakan Uji Normalitas dengan Metode Lilliefors dan Uji Homogenitas Uji Barlet.
Semua perhitungan menggunakan bantuan program SPSS Versi 11.5. Dari Analisis diperoleh thitung = 2,294 > ttabel = 1,96 pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh Pembelajaran Matematika Melalui Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Preastasi Belajar matematika.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat dan canggih, didukung pula oleh arus globalisasi yang semakin hebat. Fenomena tersebut memunculkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya adalah bidang pendidikan. Pendidikan sebagai upaya untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdedikasi
tinggi dalam masyarakat. Secara teoritik matematika adalah ilmu yang bertujuan untuk
mendidik anak manusia yang dapat berpikir secara logis, kritis, rasional, dan
percaya diri. Sedang matematika itu sendiri sering dianggap sebagai mata
pelajaran yang sulit dipahami. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar yang
dicapai cenderung rendah. Pendidikan matematika mencakup proses belajar,
proses mengajar dan pemikiran kreatif. Kesalahan yang dilakukan tidak hanya
bersumber dari kemampuan siswa yang kurang, tetapi ada faktor yang turut
menentukan keberhasilan siswa dalam belajar matematika yaitu pembelajaran
yang disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa.Dalam kegiatan pembelajaran, partisipasi aktif siswa sangat mendukung keefektifan pembelajaran kelas. Partisipasi aktif siswa nantinya
akan bisa mengalami, menghayati, dan menarik pelajaran yang dialami sendiri, sehingga hasil belajar merupakan bagian dari dirinya.Pembelajaran yang banyak dilaksanakan oleh guru biasanya adalah bersumber pada teori atau mungkin lebih tepatnya asumsi tabula rasa John
Locke. Locke mengatakan bahwa pikiran seorang anak adalah seperti kertas
kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan. Berdasarkan asumsi tersebut atau asumsi-asumsi sejenisnya, menurut Anita (2002:3) guru cenderung melaksanakan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
1. Memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas seorang guru adalah
memberi dan tugas seorang siswa adalah menerima. Guru memberikan informasi dan tugas siswa adalah menerima. Guru memberikan informasi dan mengharapkan siswa untuk menghafalkan dan mengingatnya.
2. Mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Siswa adalah penerima pengetahuan yang pasif. Guru memiliki pengetahuan yang nantinya akan dihafal oleh siswa.
3. Mengkotak-kotakkan siswa. Guru mengelompokkan siswa berdasarkan
nilai dan memasukkan siswa dalam kategori, kemampuan dinilai dari
ranking dan siswapun direduksi menjadi angka-angka.
4. Memacu siswa dalam kompetisi bagaikan ayam aduan. Siswa bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Siapa yang kuat, dia yang menang. Orang tua pun saling bersaing menyombongkan anaknya masingmasing dan menonjolkan prestasi anaknya bagaikan memamerkan binatang aduan.
Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Menurut
Anita (2002: 5-6) pendidikan perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan pokok pikiran sebagai berikut:
1. Pengetahuan ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa guru
menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan siswa membentuk
makna dari bahan-bahan pelajaran melalui proses belajar dan
menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu dapat diproses dan
dikembangkan lebih lanjut (Piaget, 1952 dan 1960; Freine, 1970).
2. Siswa membangun pengetahuan secara aktif. Belajar adalah kegiatan yang
dilakukan siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa
tidak menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. Teori
skemata menjelaskan bahwa siswa mengaktifkan struktur kognitif mereka
dan membangun struktur-struktur baru untuk mengakomodasi
pengetahuan-pengetahuan yang baru (Anderson dan Armbruster 1982,
Piaget, 1952 dan 1960). Jadi penyusun pengetahuan yang terus
menempatkan siswa sebagai peserta yang aktif.
3. pengajar perlu mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa.
Kegiatan belajar mengajar harus menekankan pada proses dari pada hasil.
Setiap orang pasti mempunyai potensi paradigma lama mengklasifikasikan
siswa dalam kategori prestasi belajar seperti dalam penilaian ranking dan
hasil-hasil tes. Paradigma lama ini menganggap kemampuan sebagai
sesuatu yang sudah mapan dan tidak dipengaruhi oleh usaha dan
pendidikan. Paradigma baru mengembangkan kompetensi dan potensi
siswa berdasarkan asumsi bahwa usaha dan pendidikan bisa meningkatkan
kemampuan mereka. Tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan
mereka. Tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa
sampai setinggi yang dia bisa (Maslow, 1962; Rogers, 1982).
4. Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara siswa dan interaksi antara
guru dan siswa. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak
dapat terjadi tanpa interaksi antara pribadi. Belajar adalah suatu proses
pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang
berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan juga
pengetahuan bersama (Johnson, Johnson dan Smith, 1991).
Suatu model pembelajaran tertentu dalam matematika, belum tentu
cocok dalam setiap pokok bahasan, sehingga guru harus bisa memilih suatu
model pembelajaran yang sesuai. Agar terjadi proses interaksi antara guru
dengan siswa sebagaimana dikehendak, maka diperlukan suatu pembelajaran
yang sesuai dengan tujuan pendidikan, tingkat kematangan siswa, situasi
kebutuhan, fasilitas materi, besar kelas dan pribadi guru serta kemampuan
profesionalnya.
Pembelajaran konvensional tidak perlu lagi digunakan oleh guru
karena dimungkinkan akan menimbulkan sikap dan tingkah laku yang pasif
dalam menghadapi tantangan jaman. Dalam pembalajaran konvensional, maka
perlu diupayakan model pembelajaran yang lebih baik. Salah satu adalah
pembelajaran kooperatif digunakan pada setiap jenjang pendidikan dan pada
setiap meteri yang diajarkan, dari matematika, membaca, menulis sampai ilmu
pengetahuan yang lain dari kemampuan dasar sampai menyelesaikan masalah
yang kompleks.
Keberhasilan proses belajar mengajar selain dipengaruhi oleh metode
pengajaran dapat pula dipengaruhi oleh aktivitas belajar siswa. Aktivitas
belajar siswa merupakan hal sangat penting dalam usaha peningkatan prestasi
belajar siswa. Dalam proses belajar mengajar tidak ada belajar tanpa adanya
keaktifan anak. Kesibukan yang dilakukan seseorang dalam belajar akan
mempengaruhi prestasi belajarnya. Siswa yang belajarnya dengan menulis,
mengerjakan soal-soal membuat alat peraga akan lebih baik hasilnya dari pada
siswa yang belajar hanya dengan membaca saja. Dengan demikian aktivitas
belajar memang diperlukan dalam belajar.
Pada dasarnya siswa SLTP memandang mata pelajaran matematika adalah suatu materi pelajaran yang sulit. Hal ini terjadi karena penyampaian materinya kurang spesifik melainkan secara umum, artinya guru langsung menyajikan materi pembelajaran tanpa menjelaskan bagaimana proses memperolehnya.Dalam hal ini tipe TGT (Teams Games Tournaments) diharapkan
mampu mewujudkan tujuan tersebut. Mengingat pentingnya aktifitas belajar
siswa dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan dapat menciptakan
situasi belajar mengajar yang lebih banyak melibatkan aktifitas belajar siswa.
Dalam pembelajaran kooperatif terhadap berbagai macam tipe pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tuornaments). TGT merupakan salah satu tipe pembelajaran yang lebih meningkatkan kerjasama antar siswa, belajar merupakan proses sosial. Menurut Tomie, pada TGT siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang
mempunyai kemampuan, ras, dan jenis kelamin yang berbeda. Mereka bekerja sama dan game sebagai persaingan turnamen. Siswa ditempatkan pada meja turnamen untuk berlomba dengan siswa-siswa lain yang mempunyai kemampuan sama.
Berdasarkan uraian diatas, dalam rangka meningkatkan hasil belajar
matematika siswa khususnya pada pokok bahasan Luas sisi tabung kerucut dan bola dengan tipe TGT (Teams Games Tuornaments) peneliti tertarik mengadakan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat “Pengaruh Pembelajaran Matematika Melalui Teams Games Tournament (TGT)Terhadap Hasil Belajar (Eksperimen Pembelajaran Matematika di Kelas 2 SMP 02 Sukolilo Pati)”.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, dapat
diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Banyaknya kenyataan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang
dianggap sulit oleh siswa.
2. Kurang diperhatikannya faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa.
3. Kurang tepatnya metode mengajar yang digunakan seorang guru
matematika dalam menyampaikan materi.
4. Seringnya guru memilih cara mengajar yang dianggap mudah dari sudut
pandang guru, sehingga dari sudut pandang siswa terabaikan.
5. Bertumpunya proses belajar mengajar pada aktivitas guru, sehingga
menimbulkan penguasaan konsep pada siswa kurang.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari terlalu luasnya masalah yang dibahas dan kesalahan pemahaman maksud, serta agar efektif dan efisien dalam penelitian ini, maka masalah yang dikaji dibatasi sebagai berikut:
1. Metode yang digunakan adalah tipe TGT (Teams Games Tournaments).
2. Prestasi belajar siswa dalam penelitian ini dibatasi pada hasil matematika.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka
permasalahan yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
“Apakah ada pengaruh pembelajaran matematika melalui TGT (Teams Games
Tournament) terhadap hasil belajar?”.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pembelajaran matematika melalui TGT terhadap hasil belajar.
F. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi bagi guru-guru matematika untuk lebih
menekankan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan
memberikan kesempatan pada siswa untuk berprestasi aktif dalam
kegiatan pembelajaran.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan oleh guru dan peneliti sebagai
calon guru dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas.
3. Sebagai referensi masukan, dan pertimbangan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar