WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Jumat, 08 April 2011

PENGARUH METODE INKUIRI DAN METODE EKSPOSITORI TERHADAPPRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI SMPMUHAMMADIYAH X SURAKARTATAHUN AJARAN 2006/2007

ABSTRAK

ANITA DWI AFRIYANI. NIM: A 410 020 109,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi
belajar matematika, siswa yang mendapat pengajaran matematika dengan metode
inkuiri dengan siswa yang mendapat pengajaran matematika dengan metode
ekspositori. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP
Muhammadiyah X Surakarta sebanyak 78 siswa. Sampel penelitian ini sebanyak
60 siswa. Sebelum dikenai perlakuan kedua kelas tersebut diserasikan dengan uji
beda mean yang berdasarkan nilai raport kelas VII semester II. Teknik
pengambilan sampel adalah teknik proporsional random sampling. Metode
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dan dokumentasi. Teknik
analisis data yang digunakan adalah uji t-test yang sebelumnya dilakukan uji
normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian pada taraf signifikansi 5% diperoleh
thitung = 3,627 sedangkan ttabel = 1,645 sehingga ada perbedaan prestasi belajar
matematika yang menggunakan metode inkuiri dengan metode ekspositori. Untuk
mengetahui mana yang lebih baik dapat ditentukan dari nilai rata-rata siswa yang
menggunakan metode inkuiri sebesar 6,147 dan menggunakan metode ekspositori
sebesar 4,833, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hasil prestasi belajar
siswa yang menggunakan metode inkuiri lebih baik dari pada menggunakan
metode ekspositori.

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu
semakin pesat, arus globalisasi semakin hebat. Akibat kedua fenomena ini kita
semakin dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya SDM yang berkualitas
dan mampu berkompetensi serta memunculkan persaingan dalam berbagai
bidang kehidupan terutama lapangan kerja. Pendidikan merupakan wadah
kegiatan sebagai pencetak SDM yang berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas
pembelajaran merupakan salah satu dasar peningkatan pendidikan secara
keseluruhan. Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi bagian terpadu dari
upaya peningkatan kualitas manusia, baik aspek kemampuan, kepribadian,
maupun tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Marsigit menyatakan,
ahli-ahli kependidikan telah menyadari bahwa mutu pendidikan sangat
tergantung kepada kualitas guru dan praktek pembalajarannya, sehingga
peningkatan kualitas pembelajaran merupakan isu mendasar bagi peningkatan
mutu pendidikan secara nasional (Sutama, 2000: 1).
Pendidikan adalah suatu proses yaitu usaha manusia dengan penuh
tanggung jawab untuk membimbing anak didik menuju kedewasaan. Proses
pendidikan yang diselenggarakan secara formal disekolah dimulai dari
pendidikan formal yang paling dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT) tidak
lepas dari kegiatan belajar yang merupakan salah satu kegiatan pokok dengan
guru sebagai pemegang peranaan utama. Hal ini sependapat dengan Slameto
(1999: 1) yang menyatakan bahwa dalam keseluruhan proses pendidikan
disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Kegiatan
belajar disekolah diarahkan agar siswa mampu menerima dan memahami
pengetahuan yang diberikan oleh guru didalam proses belajar mengajar.
Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan, dan
nilai sikap.Winkel (Darsono, 2000: 4). Sedangkan menurut Tim Penyusun
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), belajar berarti berusaha memperoleh
kepandaian/ilmu, berlatih, atau berubahnya tingkah laku/tanggapan yang
disebabkan oleh pengalaman.
Belajar matematika pada dasarnya merupakan belajar ide-ide atau
konsep-konsep yang bersifat abstrak, dan untuk mempelajarinya digunakan
simbol-simbol agar ide-ide atau konsep-konsep tersebut dapat
dikomunikasikan. Dengan banyaknya simbol-simbol yang digunakan
mengakibatkan siswa bersikap negatif terhadap matematika yang menganggap
bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan menakutkan. Di dalam
pembelajaran matematika selama ini dunia nyata dijadikan tempat
pengaplikasian konsep. Akibatnya siswa kurang menghayati atau memahami
konsep-konsep matematika dan siswa mengalami kesulitan untuk
mengaplikasikan arti matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan yang banyak dijumpai di sekolah selama ini adalah
pembelajaran matematika berlangsung secara tradisional yang meletakkan
guru sebagai pusat belajar bagi siswa. Karena siswa memiliki kebutuhan
belajar, teknik-teknik belajar, dan berperilaku belajar, guru harus menguasai
metode dan teknik pembelajaran, memahami materi atau bahan belajar yang
cocok dengan kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan siswa. Guru
dituntut untuk dapat memilih kegiatan mengajarnya sehingga siswa terhindar
dari kebosanan dan tercipta kondisi belajar yang interaktif, efektif, dan efisien.
Guru berperan memotivasi, menunjukkan dan membimbing siswa supaya
siswa melakukan kegiatan belajar. Sedangkan siswa berperan untuk
mempelajari kembali, memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup
dengan berfikir dan berbuat didalam dan terhadap dunia kehidupan. Untuk
memecahkan masalah pembelajaran yang demikian, perlu dilakukan upaya
pengembangan pembelajaran. Pengembangan pembelajaran yang diperlukan
saat adalah pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa,
serta memberikan iklim yang kondusif dalam perkembangan daya nalar siswa.
Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika sangat
penting, karena dalam matematika banyak kegiatan pemecahan masalah yang
menuntut kreatifitas siswa aktif. Siswa sebagai subyek didik adalah yang
merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.
Untuk menarik keterlibatan siswa dalam pembelajaran, guru harus
membangun hubungan baik yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling
pengertian. Hubungan baik akan membuat jembatan menuju kesuksesan
puncak siswa dalam berbicara dengan bahasa hati siswa. membina hubungan
baik bisa memudahkan guru melibatkan siswa, memudahkan pengelolaan
kelas dan memperpanjang waktu fokus.
Salah satu hambatan dalam pembelajaran matematika adalah bahwa siswa
kurang tertarik pada matematika, karena banyak siswa mengalami kesulitan
bila menghadapi soal-soal matematika sehingga dapat mengakibatkan prestasi
belajar matematika rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lain.Oleh
karena itu kreatifitas seorang guru dalam mengajar matematika menjadi faktor
penting agar matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan dan menarik
di dalam kelas. Kenyataan, banyak guru yang menerapkan pelajaran
ekspositori. Sumber utama pada proses ini adalah penjelasan guru, siswa
hanya pasif mendengarkan materi,menerima dan menelaah begitu saja ilmu
atau informasi dari guru.
Telah dikemukakan diatas bahwa matematika merupakan mata
pelajaran yang kurang diminati siswa. Maka metodenya guru harus berusaha
menembuhkan minat atau “rasa cinta” matematika pada siswa. Pikiran siswa
sebaiknya diarahkan untuk dapat “terjun” dalam matematika dengan cara
melibatkannya secara langsung dalam pembelajaran. sebagai salah satu
pemecahan dalam masalah ini dipilih pendekatan inkuiri.
Dengan melalui metode tersebut diharapkan dapat melibatkan siswa
secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa lebih mudah
memahami materi yang diajarkan oleh guru. Selain itu dapat menambahkan
rasa percaya diri siswa bahwa belajar matematika itu menyenangkan dan
siswa akan menyukai matematika dan dapat meningkan prestasi belajar
matematika.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan paparan diatas maka dapat diidentifikasikan masalahnya
sebagai berikut:
1. Peranan guru yang sangat dominan menyebabkan siswa kurang aktif
dalam proses pembelajaran.
2. Kurang tepatnya seorang guru dalam memilih dan menggunakan metode
mengajar dalam menyampaikan sesuai pokok bahasan tertentu,
memungkinkan akan mempengaruhi proses belajar mengajar.
3. Ada kemungkinan perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mendapat
pengajaran matematika dengan metode inkuiri dengan siswa yang
mendapat pengajaran matematika dengan metode ekspositori.
4. Ada kemungkinan pengajaran matematika dengan metode inkuiri
merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas belajar.
C. Pembatasan Masalah
1. Metode inkuiri dalam penelitian ini adalah memberikan perhatian dalam
mendorong diri siswa mengembangkan intelektual dalam ketrampilan
memecahkan masalah.
2. metode ekspositori dalam penelitian ini adalah memberikan kesempatan
secara luas kepada guru untuk merancang program pembelajaran dan
siswa tinggal menerima rancangan guru.
3. Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Pada penelitian ini peneliti membatasi pengaruh metode inkuiri dan
metode ekspositori terhadap prestasi belajar matematika.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka dapat
dirumuskan masalahnya sebagai berikut: Apakah ada perbedaan prestasi
belajar matematika siswa dalam proses pembelajaran melalui metode inkuiri
dan metode ekspositori.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan peneliian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui
perbedaan prestasi belajar matematika siswa melalui metode inkuiri dan
metode ekspositori.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
1) Untuk menambah pengetahuan serta lebih mendukung teori-teori yang
ada sehubungan dengan masalah yang diteliti.
2) Sebagai bahan masukkan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar
siswa.
3) Sebagai dasar untuk mengadakan penelitian lebih lanjut bagi peneliti
lain.

2. Manfaat praktis
1) Sebagai dorongan untuk lebih meningkatkan prestasi belajar bagi para
siswa.
2) Sebagai bahan masukkan bagi para guru, tentang berbagai hal dan cara
yang mempengaruhi dalam penerapan metode inkuiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar