WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Jumat, 08 April 2011

MEMINIMALKAN FOBIA SISWA DAN PENINGKATANPRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUIOPTIMALISASI TEKNIK GURU MENGAJAR

ABSTRAK

Sri Anugrah Bekti (A410030015),

Penelitian tindakan kelas kolaboratif ini bertujuan (1) meminimalkan fobia
siswa terhadap matematika sampai 25% melalui optimalisasi teknik guru mengajar,
(2) meningkatkan prestasi belajar siswa sampai daya serap kelas 75% melalui
optimalisasi teknik guru mengajar.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek yang
menerima tindakan siswa kelas VIIIA semester genap tahun 2005/ 2006 SMP N 4
Polokarto yang berjumlah 40 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, catatan
lapangan, dan review. Keabsahan data diperiksa dengan triangulasi penyelidik. Data
dianalisis secara deskriptif kualitatif model alur yaitu reduksi data, penyajian data
dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini pertama, adanya penurunan fobia siswa yang meliputi
penurunan ketakutan bertanya, mendapat tugas, maju mengerjakan soal ke depan
kelas, dan penurunan ketakutan mengeluarkan ide sampai 25% serta peningkatan
keaktifan dan kreativitas belajar matematika siswa sampai 75% melalui optimalisasi
teknik guru mengajar. Ketakutan bertanya menurun, yaitu sebelum adanya penelitian
tindakan 57,5%, pada putaran I 47,5%, putaran II 40%, putaran III 32,5% dan pada
putaran IV 22,5%. Ketakutan mendapat tugas menurun, yaitu sebelum adanya
penelitian tindakan 37,5%, pada putaran I 32,5%, putaran II 30%, putaran III 27,5%
dan pada putaran IV 20%. Ketakutan maju mengerjakan soal ke depan kelas
menurun, yaitu sebelum penelitian tindakan 42,5%, pada putaran I 37,5%, putaran II
35%, putaran III 30% dan pada putaran IV 22,5%. Ketakutan mengeluarkan ide
menurun, yaitu sebelum penelitian tindakan 47,5%, pada putaran I 42,5%, putaran II
35%, putaran III 32,5% dan pada putaran IV 25%. Keaktifan siswa meningkat, yaitu
sebelum penelitian tindakan 32,5%, pada putaran I 40%, putaran II 50%, putaran III
62,5% dan pada putaran IV 77,5%. Kreativitas belajar siswa meningkat, yaitu
sebelum penelitian tindakan 27,5%, pada putaran I 37,5%, putaran II 47,5%, putaran
III 52,5% dan pada putaran IV 75%. Kedua, adanya peningkatan prestasi belajar
matematika siswa sampai daya serap kelas 75% melalui optimalisasi teknik guru
mengajar yaitu sebelum adanya penelitian tindakan, siswa yang memperoleh nilai •
75 sebanyak 30%, pada putaran I sebanyak 35%, putaran II sebanyak 50%, putaran
III sebanyak 60% dan pada putaran IV sebanyak 77,5%.
Kata kunci: Fobia, Optimalisasi, Teknik, Prestasi.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi
informasi sekarang ini telah memberikan dampak positif dalam semua aspek
kehidupan manusia termasuk juga aspek pendidikan. Pendidikan merupakan
masalah yang menarik untuk dibahas, karena melalui usaha pendidikan
diharapkan tujuan pendidikan akan dapat tercapai. Untuk menghadapi tantangan
perkembangan teknologi informasi tersebut dituntut sumber daya yang handal
dan mampu berkompetisi secara global, sehingga diperlukan keterampilan yang
tinggi, pemikiran yang kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemauan kerja yang
efektif. Cara berfikir seperti ini dapat dikembangkan melalui pendidikan
matematika, karena pendidikan matematika merupakan salah satu fondasi dari
kemampuan sains dan teknologi.
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan
penting dalam dunia pendidikan, karena dapat dilihat dari waktu jam pelajaran di
sekolah yang lebih banyak dibandingkan pelajaran yang lainnya. Mengingat
pentingnya pendidikan matematika perlu dilakukan suatu perencanaan dan
perbaikan cara belajar yang dapat meningkatkan pemahaman siswa.
Menumbuhkan generasi muda yang tanggap terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak boleh dibiarkan adanya anak-anak
muda yang buta matematika. Generasi muda harus dibiasakan mempelajari
matematika sehingga mampu dalam menghadapi masalah-masalah nyata.
Dibalik alasan tersebut ditemukan kesenjangan-kesenjangan sikap siswa
dalam mempelajari matematika diantaranya banyak siswa yang merasa kurang
mampu dalam mempelajari matematika karena dianggap sulit, menakutkan
bahkan sebagian dari mereka ada yang membencinya, sehingga matematika
dianggap sebagai momok oleh mereka. Hal ini yang menyebabkan siswa menjadi
takut (fobia) terhadap matematika.
Selama ini matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit oleh
sebagian besar siswa. Anggapan demikan tidak lepas dari persepsi yang
berkembang dalam masyarakat tentang matematika sebagai pelajaran yang sulit.
Persepsi negatif itu ikut dibentuk oleh anggapan bahwa matematika merupakan
ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambang-lambang dan rumusrumus
yang sulit dan membingungkan, yang muncul atas pengalaman kurang
menyenangkan ketika belajar matematika di sekolah. Akibatnya pelajaran
matematika tidak dipandang secara obyektif lagi.
Kondisi seperti ini seringkali masih diperparah oleh sikap guru yang
mengajarkan matematika. Pelajaran matematika sendiri sudah dianggap sulit,
masih ditambah lagi guru yang mengajarkan matematika sering kali berperilaku
cepat marah, suka mencela, sering menghukum siswa, terlalu cepat dalam
mengajar, membosankan dan monoton.
Ketakutan-ketakutan yang muncul terhadap matematika tidak hanya
disebabkan oleh siswa itu sendiri, tetapi juga didukung oleh ketidakmampuan
guru menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada matematika.
Didalam kelas guru belum tentu mampu menciptakan suatu situasi yang
memungkinkan terjadinya komunikasi timbal balik dalam pengajaran matematika
bahkan menghambat terjadinya komunikasi itu.
Banyak fakta menunjukkan pada saat pembelajaran matematika
berlangsung, sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya, siswa lebih
bersifat pasif, enggan, takut atau malu untuk mengemukakan pendapatnya.
Keadaan ini akan mengganggu kelancaran pembelajaran, jika hal ini dibiarkan
terus menerus sehingga menyebabkan siswa semakin mengalami kesulitan dalam
mempelajari dan memahami konsep-konsep yang ada dalam matematika dan
para guru juga akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan siswa, karena
pembelajaran cenderung satu arah.
Siswa dalam pembelajaran matematika lebih bersifat pasif, yaitu siswa
lebih banyak diam, kurang aktif dan kurang memperhatikan materi yang
disampaikan oleh guru. Sikap enggan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
matematika diartikan sebagai sikap yang tidak mau berusaha atau tidak ada
kemauan untuk mengikuti pembelajaran matematika di sekolah. Sedangkan sikap
malu merupakan suatu sikap kurang percaya diri dari diri siswa tersebut,
sehingga dapat menghambat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
Pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara guru
dan siswa. Salah satu yang diduga mempengaruhi kualitas pengajaran adalah
variabel guru cukup beralasan. Mengapa guru mempunyai pengaruh dominan
terhadap kualitas pengajaran, sebab guru adalah sutradara sekaligus aktor dalam
pembelajaran. Sistem mengajar guru yang digunakan dalam pembelajaran juga
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dalam pembelajaran diperlukan
suatu keahlian dan ketrampilan tertentu yang harus dimiliki oleh seorang guru
dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas.
Mempelajari matematika berbeda dengan pelajaran lain yang bisa
dipelajari dengan membaca dan menghafal saja. Untuk mempelajari matematika
selain dibutuhkan hafalan juga diperlukan pemahaman, ketelitian dan latihanlatihan
soal secara kontinu. Dalam hal ini, siswa dituntut untuk berani
mengerjakan soal-soal latihan di depan kelas dengan bantuan guru.
Guru sebagai pengelola kelas mempunyai peran yang besar dan
bertanggung jawab didalam proses pembelajaran. Sementara banyak siswa yang
mengeluh dan kurang menyukai pelajaran matematika. Hal ini disebabkan faktor
pendidik yang menggunakan teknik mengajar kurang optimal. Guru merupakan
kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada dititik sentral dari
setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan
kualitatif. Berbagai penelitian menggunakan metode-metode pembelajaran yang
inovatif masih kurang.
Menurut Hartanto, dkk (1999) dalam Sutama (2001:2), guru matematika
saat ini cenderung mengajar kurang bervariasi, latihan yang diberikan kepada
siswa kurang bermakna dan umpan balik serta koreksi dari guru jarang
diterapkan. Kesimpulan penelitian Suryanto (2000:37) dalam Sutama (2001:3)
tentang hambatan dalam mengajar matematika diantaranya adalah (1) Masih
kurangnya pengetahuan guru tentang pembukaan pelajaran matematika, (2)
Sangat kurangnya pembelajaran pemecahan masalah, (3) masih banyak teknik
bertanya tidak efektif, (4) Lemahnya guru dalam pengendalian kelas, dan (5)
Adanya materi ajar belum dikuasai guru. Lebih lanjut Suryanto menyimpulkan,
bahwa hambatan dan faktor siswa dalam pelajaran matematika adalah lemahnya
kemampuan siswa, kurangnya perhatian siswa terhadap penjelasan guru, dan
kurangnya belajar. Kelemahan-kelamahan ini dapat dianggap sebagai kegagalan
guru memotivasi siswa.
Selain faktor guru yang berpengaruh terhadap pembelajaran matematika,
bisa juga dari faktor siswa yang takut dalam mempelajari matematika. Ketakutan
siswa seperti ketakutan bertanya, ketakutan mendapat tugas, ketakutan maju
mengerjakan soal ke depan kelas dan ketakutan mengeluarkan ide yang muncul
dari dalam diri siswa, serta keaktifan dan kreativitas siswa dalam belajar
matematika masih sangat memprihatinkan dan perlu ditingkatkan kualitasnya.
Hal ini merupakan salah satu indikator yang dapat menunjukkan bahwa siswa
mengalami fobia terhadap pelajaran matematika, sehingga terjadilah kesulitan
belajar bagi siswa. Kalangan pendidik menyadari bahwa proses pembelajaran
matematika akan lebih efektif dan bermakna jika siswa ikut berpartisipasi aktif.
Dengan berpartisipasi siswa akan mengalami, menghayati, dan menarik pelajaran
dari aktivitas yang dilakukan.
Uraian di atas memberikan kenyataan bahwa didalam pembelajaran
matematika diperlukan optimalisasi teknik guru mengajar, sehingga fobia siswa
dapat menurun dan lebih lanjut prestasi belajar siswa dapat meningkat. Melalui
optimalisasi teknik guru mengajar diharapkan dapat meminimalkan fobia siswa
dan meningkatkan prestasi belajar matematika, sehingga akan berpengaruh
terhadap tujuan belajar yang diharapkan.
B. Perumusan Masalah
Guna mendapatkan sebuah kebenaran dalam penelitian akan dihadapkan
pada suatu permasalahan yang didalamnya mengandung masalah yang harus
dipecahkan oleh peneliti. Fokus penelitian ini adalah peminimalan fobia siswa
terhadap matematika, dan peningkatan prestasi belajar matematika. Fobia siswa
yang terdiri dari ketakutan bertanya, ketakutan mendapat tugas, ketakutan maju
mengerjakan soal ke depan kelas dan ketakutan mengeluarkan ide dalam proses
pembelajaran, serta keaktifan dan kreativitas belajar siswa yang rendah. Melalui
optimalisasi teknik guru mengajar diharapkan fobia siswa dalam pembelajaran
matematika dapat menurun.
Menurut Lewis (1992:5) yang diterjemahkan oleh Ratri Kumudawati
fobia merupakan perasaan takut yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak
memperlihatkan ancaman sejati terhadap kelangsungan hidup. Faktor-faktor yang
sering menjadi penyebab munculnya fobia terhadap matematika adalah guru
yang otoriter, persepsi siswa yang menganggap bahwa matematika adalah
pelajaran yang sulit. Berdasarkan fokus penelitian dan uaraian di atas maka dapat
dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah tindakan guru dalam pembelajaran matematika melalui optimalisasi
teknik guru mengajar dapat meminimalkan fobia siswa terhadap matematika
sampai 25%?
2. Apakah tindakan guru dalam pembelajaran matematika melalui optimalisasi
teknik guru mengajar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sampai daya
serap kelas 75%?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan perilaku
belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika. Perilaku tersebut adalah
ketakutan dan prestasi belajar siswa melalui optimalisasi teknik guru mengajar.
Peminimalan fobia siswa dan peningkatan prestasi belajar matematika dilakukan
secara kolaborasi antara peneliti, guru matematika dan kepala sekolah tempat
penelitian berdasarkan konsep optimalisasi teknik guru mengajar kemudian
diidentifikasi, digambarkan, dikaji secara induktif dan komperatif dalam rangka
pengembangan konsep dan pemahaman makna. Secara khusus penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Meminimalkan fobia siswa terhadap matematika melalui optimalisasi teknik
guru mengajar sampai 25%.
2. Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui optimalisasi teknik guru
mengajar sampai daya serap kelas 75%.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan
pengetahuan pada tingkat teoritis kepada pembaca dan guru dalam
meminimalkan fobia siswa terhadap matematika dan meningkatkan prestasi
belajar matematika melalui optimalisasi teknik guru mengajar. Penelitian ini
juga dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme guru untuk
mengarahkan dan membimbing siswa dalam belajar matematika.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa
langkah-langkah untuk mengatasi fobia siswa terhadap matematika dan
meningkatkan prestasi belajar siswa melalui optimalisasi teknik guru
mengajar. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi
siswa, guru dan sekolah.
a. Bagi siswa, penelitian ini berguna untuk membantu menghilangkan fobia
(ketakutan) terhadap matematika pada diri mereka, sehingga prestasi
belajarnya juga dapat meningkat tanpa fobia berkepanjangan.
b. Bagi guru penelitian ini merupakan masukan dalam memperluas
pengetahuan dan wawasan mengenai model pembelajaran dalam rangka
meminimalkan fobia siswa terhadap matematika dan meningkatan
prestasi belajar matematika.
c. Bagi sekolah hasil penelitian ini memberikan sumbangan dalam rangka
perbaikan pembelajaran matematika.
E. Definisi Operasional Istilah
1. Meminimalkan adalah usaha mengurangi kondisi yang bersifat negatif pada
proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, peminimalan difokuskan pada
kondisi fobia siswa terhadap matematika. Indikator keberhasilan
peminimalan adalah berkurangnya kondisi atau hal yang dianggap buruk.
Penelitian ini mengoptimalkan kemampuan guru, keaktifan siswa (prestasi
belajar siswa) dan optimalisasi teknik guru mengajar sebagai usaha
meminimalkan fobia siswa.
2. Fobia siswa terhadap matematika dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai
ketakutan-ketakutan siswa terhadap matematika yang dapat menghambat
kegiatan belajar matematika. Fobia siswa terdiri dari sikap takut untuk
bertanya, takut jika mendapat tugas, takut maju ke depan kelas, dan takut
untuk mengeluarkan ide. Peminimalan fobia siswa terhadap matematika
dapat dilakukan melalui peningkatan keaktifan dan kreativitas siswa.
3. Prestasi belajar matematika dalam penelitian ini merupakan hasil yang
dicapai oleh siswa dalam pembelajaran matematika yang mengakibatkan
perubahan pada diri siswa berupa penguasaan pengetahuan dan kecakapan
dalam pelajaran matematika. Prestasi belajar matematika dapat
mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh siswa sebagai hasil usaha dari
kegiatan belajar matematika.
4. Optimalisasi teknik guru mengajar dalam penelitian ini adalah
mengoptimalkan cara guru menyampaikan materi pembelajaran yaitu mampu
dalam mengelola materi ajar, memilih pendekatan/ metode, media dan
sumber belajar. Teknik atau cara mengajar yang dilakukan guru dalam
penelitian ini dapat menolong siswa mengembangkan kemampuan dan
potensi yang sedang berkembang dalam diri siswa, guru menghargai siswa
sebagai individu yang memiliki kemampuan dan bertanggung jawab, dan
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru berperan
sebagai pembimbing dan fasilitator, siswa bersifat aktif, guru memperhatikan
sosioemosional dan mendorong kreativitas siswa bukan sebagai pemberi
ilmu/pengetahuan dan pembelajaran didominasi oleh guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar