WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Jumat, 08 April 2011

OPTIMALISASI INSTRUKSIONAL MATEMATIKA MELALUIPENGORGANISASIAN TUGAS TERSTRUKTUR DAN KUIS

ABSTRAK
Kusworini, A 410 000 259,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pembelajaran
matematika melalui pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis pada pokok
bahasan relasi, pemetaan, dan grafik, (2) peningkatan hasil belajar siswa pada
keaktifan siswa, kreativitas siswa, dan kemandirian siswa. Penelitian dilakukan
dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK), dengan subyek
penerima tindakan adalah siswa kelas VIIIB SMP PGRI Gringsing yang
berjumlah 44 siswa, subyek pelaksana tindakan adalah guru matematika kelas
VIIIB, dan subyek yang membantu pelaksanaan tindakan adalah peneliti dan
kepala sekolah. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, catatan
lapangan, wawancara dan dokumentasi.
Analisis data secara diskriptif kualitatif
dengan metode alur. Hasil penelitian tindakan ini adalah adanya peningkatan hasil
belajar siswa pada pokok bahasan relasi, pemetaan, dan grafik melalui
pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis. Hasil belajar siswa dibatasi pada
keaktifan, kreativitas, dan kemandirian. Keaktifan siswa dalam: (a) mengerjakan
tugas meningkat sebesar 40,91%, (b) mengerjakan latihan meningkat sebesar
40,91%, (c) maju ke depan kelas meningkat sebesar 22,73%, (d) bertanya
meningkat sebesar 27,28%, (e) mengeluarkan ide/gagasan meningkat sebesar
15,91%. Kreativitas dalam menyusun perencanaan penyelesaian soal meningkat
sebesar 15,91%. Kemandirian siswa dalam: (a) mengerjakan tugas meningkat
sebesar 27,28%, (b) mengerjakan soal kuis meningkat sebesar 34,09%.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru,
yang harus mampu dihadapi oleh manusia. Sebagai konsekuensi logis, dibutuhkan
sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai kapabilitas. Globalisasi
memberikan tantangan sekaligus peluang secara terbuka bagi manusia yang
mempunyai kualitas dan kapabilitas yang unggul. Masyarakat masa depan dengan
ciri globalisasi, kemajuan iptek, dan kesempatan menerima arus informasi yang
cepat, memerlukan warga yang mampu menghadapi segala permasalahan serta
menyesuaikan diri dengan situasi baru tersebut.
Pendidikan berkewajiban mempersiapkan generasi baru yang mempunyai
kualitas dan kapabilitas yang unggul sehingga mampu menghadapi segala
perubahan yang ada. Pendidikan di sekolah merupakan salah satu sarana untuk
meningkatkan sumber daya manusia. Sejalan dengan perkembangan masyarakat
dewasa ini pendidikan banyak menghadapi berbagai rintangan, salah satunya
adalah peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah
melalui perbaikan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran melibatkan
guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Peran guru dalam kegiatan
pembelajaran disekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran
siswa dalam belajar. Dalam kegiatan pembelajaran guru berusaha menyampaikan
sesuatu hal yang disebut “pesan”. Sebaliknya, dalam kegiatan belajar siswa juga
berusaha memperoleh sesuatu hal. Pesan atau sesuatu hal tersebut dapat berupa
pengetahuan, wawasan, keterampilan, atau “isi ajaran” yang lain seperti kesenian,
kesusilaan, dan agama (Dimyati dan Mudjiono, 2006:171).
Siswa sebagai penerima pesan, dituntut untuk menguasai pesan tersebut
secara tuntas. Hal tersebut merupakan masalah yang cukup sulit yang harus
dihadapi oleh guru. Kesulitan ini dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai
makhluk individu yang berbeda satu sama lain, tetapi mereka juga sebagai
makhluk sosial dengan latar belakang yang berbeda. Paling sedikit ada tiga aspek
yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lain yaitu aspek intelektual,
psikologis, dan biologis. Ketiga aspek inilah yang melahirkan bervariasi sikap dan
tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga keberhasilan
pembelajaran sangat ditentukan oleh guru dan siswa (Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain, 1997:1).
Keberhasilan belajar merupakan tujuan utama proses pembelajaran,
disamping membina dan membentuk kepribadian anak. Dalam proses
pembelajaran terdapat faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah semua faktor yang
berasal dari dalam siswa, diantaranya adalah motivasi, minat, tingkat kecerdasan,
kedisiplinan, aktifitas belajar, dan usaha yang dilakukan siswa. Sedangkan faktor
eksternal adalah semua faktor yang berasal dari luar diri siswa, yaitu keadaan
sosial ekonomi, lingkungan, kurikulum, sarana, metode mengajar dan sebagainya.
Keberhasilan proses pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa
yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan tersebut dapat
diamati dari beberapa sisi yaitu dari sisi tingkat pemahaman, tingkat penguasaan
dan kemampuan menyelesaikan soal dengan benar. Semakin tinggi tingkat
pemahaman, tingkat penguasaan, dan kemampuan mengerjakan soal dengan
benar, diharapkan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan belajar.
Matematika merupakan salah satu diantara pelajaran yang diajarkan di
sekolah-sekolah dengan frekuensi jam pelajaran yang lebih banyak dibanding
dengan mata pelajaran lainnya. Tetapi banyak siswa yang merasa kurang mampu
dalam mempelajari matematika karena dianggap sulit sehingga minat untuk
mempelajari kembali matematika di luar jam sekolah kurang. Hal ini
menyebabakan hasil belajar matematika masih rendah.
Dalam belajar matematika dibutuhkan cara berpikir yang jelas dan logis,
aktif, kreatif, serta kemandirian dalam memecahkan masalah. Sebagai pendidik,
guru diharapkan mampu mengembangkan aktivitas dan kreativitas yang sudah
dimiliki siswa untuk tujuan pembelajaran. Dalam setiap proses belajar, siswa
selalu menampakkan keaktifan yang beraneka ragam bentuknya, mulai dari
kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati.
Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih ketrampilan,
dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, menyimpulkan hasil
percobaan, dan kegiatan psikis yang lain (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 45).
Upaya meningkatkan hasil belajar itu tidak mudah dicapai secara
maksimal, karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar itu
sendiri. Perbaikan dan penyempurnaan ini meliputi perbaikan pada sistem
pendididikan ataupun dalam hal yang langsung berkaitan dengan praktek
pembelajaran, salah satunya adalah metode mengajar. Dalam kegiatan proses
pembelajaran, metode mengajar mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam
kenyataannya metode tertentu dapat menunjang pendekatan siswa aktif, asalkan
metode tersebut diterapkan dengan teknik yang benar. Salah satu metode yang
bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah metode pengorganisasian
tugas terstruktur dan kuis.
Pemberian tugas digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil
belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama
melakukan tugas. Sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat
lebih terintegrasi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalami situasi atau
pengalaman yang berbeda, waktu menghadapi masalah-masalah baru. Disamping
itu, tugas digunakan untuk memperoleh, memperluas, dan memperkaya
pengetahuan serta keterampilan siswa di sekolah melalui kegiatan-kegiatan di luar
sekolah. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar dan merasa
terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan
berani bertanggungjawab sendiri (Roestiyah N.K, 2001:133). Disamping tugas
tersebut kuis juga dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengaktifkan
siswa dalam belajar matematika. Dengan diadakannya kuis secara intensif melatih
siswa untuk terbiasa mempelajari materi pelajaran sebelum materi pelajaran
tersebut disampaikan di depan kelas.
Dalam penelitian ini tugas yang diberikan adalah tugas terstruktur yaitu
tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan oleh siswa yang diambil dari LKS
dan buku pegangan dan dilakukan setiap pertemuan. Tugas testruktur diberikan
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahan siswa terhadap materi yang
telah disampaikan oleh guru setiap sub pokok bahasan. Disamping tugas tersebut
kuis juga dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengaktifkan siswa
dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian, adanya pengorganisasian
tugas terstruktur dan kuis tersebut, siswa akan termotivasi untuk terbiasa belajar
matematika di rumah sehingga dapat menimbulkan pengalaman belajar yang
nantinya dapat meningkatkan hasil belajar.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran matematika melalui
pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis guna meningkatkan hasil belajar
siswa, perlu adanya kerjasama antara guru matematika dengan peneliti yaitu
melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Proses PTK ini memberikan
kesempatan kepada peneliti dan guru matematika untuk mengidentifikasi
masalah-masalah pembelajaran di sekolah, sehingga dapat dikaji dan dituntaskan.
Dengan demikian proses pembelajaran matematika di sekolah melalui
pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin melakukan penelitian
dengan judul “Optimalisasi Instruksional Matematika Melalui Pengorganisasian
Tugas Terstruktur dan Kuis (PTK Pembelajaran matematika di Kelas VIII SMP
PGRI Gringsing).
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas dapat diidentifikasikan
masalah-masalah yang timbul sebagai berikut:
1. Masih rendahnya minat dan kesungguhan siswa dalam belajar matematika
terutama dalam mengerjakan tugas sehingga menimbulkan permasalahan
seperti tingkat partisipasi aktif rendah, daya kreatifitas siswa rendah, dan
kemandirian siswa kurang.
2. Kurangnya pemberian tugas dan kuis dapat mempengaruhi hasil belajar.
3. Kurangnya kesiapan guru dalam memilih dan menentukan metode
pembelajaran sehingga sasaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa tidak
tercapai.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kesalahan maksud serta menjaga aspek efektif dan
efisien agar penelitian ini lebih terarah dan dapat dikaji secara mendalam maka
diperlukan pembatasan masalah. Masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini
adalah:
1. Metode pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini adalah
pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis.
2. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran dibatasi pada keaktifan, kreatifitas,
dan kemandirian siswa dalam pembelajaran matematika kelas VIIIB SMP
PGRI Gringsing. Pada pokok bahasan relasi, pemetaan, dan grafik.
3. Keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dibatasi pada keaktifan
mengerjakan tugas, mengerjakan latihan, maju ke depan kelas, bertanya, dan
mengeluarkan ide/gagasan.
4. Kreatifitas siswa dalam pembelajaran matematika dibatasi pada kreatifitas
siswa dalam menyusun perencanaan penyelesaian soal.
5. Kemandirian siswa dalam dalam pembelajaran matematika dibatasi pada
kemandirian mengerjakan tugas dan mengerjakan soal kuis.
D. Perumusan Masalah
Bertolak pada latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas,
maka permasalahan yang hendak dicari penyelesaiannya melalui penelitian ini
dirumuskan:
1. Bagaimana proses pembelajaran matematika melalui pengorganisasian tugas
terstruktur dan kuis yang dilakukan oleh guru SMP untuk meningkatkan hasil
belajar siswa?
2. Apakah melalui metode pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis dapat
meningkatkan hasil belajar siswa SMP?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan:
1. Mendiskripsikan proses pembelajaran matematika melalui pengorganisasian
tugas terstruktur dan kuis.
2. Mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIB SMP
PGRI Gringsing melalui metode pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis.
F. Manfaat Penelitian
Karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas maka,
penelitian ini memberikan manfaat konseptual utamanya kepada pembelajaran
matematika, selain itu penelitian tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pembelajaran matematika SMP.
1. Manfaat Teoritis
Secara umum, hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat
memberikan sumbangan kepada proses pembelajaran matematika, utamanya
pada peningkatan hasil belajar siswa melalui pengorganisasian tugas terstruktur
dan kuis.
Secara khusus penelitian ini memberikan manfaat kepada pembelajaran
matematika yang berupa perubahan dari pembelajaran yang hanya
mementingkan hasil ke pembelajaran yang juga mementingkan prosesnya,
sehingga dalam metode pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis ini siswa
diharapkan lebih kreatif dan aktif dalam berpikir untuk memecahkan masalah.
Sehingga untuk memperoleh hasil siswa tidak perlu menunggu jawaban dari
seorang guru. Dengan kebiasaan siswa untuk selalu berpikir aktif maka secara
otomatis proses pembelajaran matematika dapat ditingkatkan.
2. Manfaat Praktis
Pada manfaat praktis, penelitian ini menambah wawasan bagi guru dan
calon guru bidang studi matematika dalam upaya meningkatkan hasil belajar
matematika siswa dengan metode pengorganisasian tugas terstruktur dan kuis.
Bagi guru matematika, penelitian ini merupakan bahan pertimbangan acuan
bagi penyelenggaraan pendidikan dan dalam meningkatkan mutu pendidikan
dan pembelajaran agar hasil belajar siswa meningkat, khususnya bidang studi
matematika.
Bagi siswa proses pembelajaran ini dapat memberikan sumbangan
dalam proses belajar mengajar yang sesuai dengan kemampuan siswa sehingga
dapat diperoleh hasil belajar yang optimal. Bagi sekolah hasil penelitian ini
memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar