WAJAH PERPUSTAKAAN KITA


JUDUL - JUDUL SKRIPSI / THESIS / KARYA ILMIAH

Rabu, 06 April 2011

TINJAUAN KEKUATAN DINDING PANEL BERTULANGAN BAMBU DENGAN BAHAN TAMBAH ABU BATU BARA (FLY ASH), GYPSUM DAN LEM BETON

Aziiz, Shafan Abdul (2008)
Abstract

Dinding Panel adalah salah satu hasil dari perkembangan teknologi di bidang beton pra cetak. Dinding pracetak bukanlah suatu elemen struktural, yang mana dalam pemakaiannya diupayakan memiliki berat yang relatif ringan sehingga tidak memberikan beban yang berlebihan bagi struktur bangunan. Baja merupakan produk bahan tambang yang suatu saat keberadaannya akan habis. Untuk mengatasi problem tersebut, sebagai alternatif pengganti baja dicoba penggunaan bambu sebagai tulangan yang mempunyai kekuatan tarik yang tinggi, murah serta banyak tersedia. Penelitian yang dilakukan sekarang adalah mencari komposisi campuran mortar yang memiliki kuat tekan terbesar. Kemudian komposisi campuran mortar dengan kuat tekan terbesar dikombinasikan dengan beberapa variasi bahan tambah. Variasi yang dibuat antara lain mortar yang diberi bahan tambah abu terbang (fly ash) sisa pembakaran batu bara, mortar dengan bahan tambah abu terbang (fly ash) dan lem beton serta mortar dengan bahan tambah abu terbang (fly ash) dan gypsum. Prosentase bahan tambah abu terbang (fly ash) 12,5% terhadap berat semen, sedangkan lem beton dan gypsum adalah 0%, 5%, 7%, 9% terhadap berat semen. Dari beberapa variasi campuran mortar tersebut akan diteliti campuran mana yang terbaik untuk dibuat sebagai dinding panel. Setelah diperoleh campuran terbaik maka campuran mortar tersebut dikombinasikan dengan tulangan berupa bambu apus/tali (Gigantochloa apus Kurtz) untuk dibuat dinding panel, yang bertujuan untuk meningkatkan tegangan lentur dinding panel tersebut. Tulangan yang digunakan ada 2 variasi bentuk, yaitu berbentuk anyaman susun dan anyaman silang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh komposisi campuran terbaik yaitu 1 semen : 5 pasir, dengan diperoleh kuat tekan pada usia 28 hari sebesar 10,690 MPa. Setelah diberi berbagai macam variasi bahan tambah, diperoleh bahan tambah abu terbang (fly ash) 12,5% yang dapat meningkatkan kuat tekan mortar menjadi 14,815 MPa, pada usia 28 hari. Terjadi peningkatan kuat tekan sebesar 38,59% terhadap mortar murni. Kemudian dari mortar dengan bahan tambah dikombinasikan dengan tulangan bambu untuk dibuat dinding panel. Dengan 2 macam variasi tulangan, yaitu anyaman susun dan anyaman silang. Dari pengujian diperoleh nilai tegangan lentur sebesar 619831,80 kg/m2 untuk dinding panel dengan bentuk tulangan susun, dan 494164,77 kg/m2 untuk dinding panel dengan bentuk tulangan anyam.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan berkembangnya jaman, sebagai seorang teknik diberi
tantangan untuk lebih cepat dalam pelaksanaan suatu bangunan. Untuk menjawab
hal tersebut dan seiring dengan perkembangan teknologi di bidang beton pra cetak,
maka tantangan tersebut dapat sedikit terjawab.
Dinding Panel adalah salah satu hasil dari perkembangan teknologi di
bidang beton pra cetak. Dinding pracetak bukanlah suatu elemen struktural, yang
mana dalam pemakaiannya diupayakan memiliki berat yang relatif ringan
sehingga tidak memberikan beban yang berlebihan bagi struktur bangunan.
Dinding panel dengan berat yang ringan sangat sesuai dipergunakan untuk
daerah yang sering terjadi gempa. Dengan berat yang ringan maka dampak bahaya
yang akan ditimbulkan lebih sedikit bagi penghuninya. Selain untuk daerah yang
sering terjadi gempa, dinding panel dapat dipergunakan dalam keadaan darurat,
misalnya untuk tempat pengungsian sementara, yang mana dalam dalam
pembangunannya diperlukan waktu yang singkat. Selain itu dinding panel juga
efektif untuk dipergunakan pada pabrik, gudang-gudang penyimpanan ataupun
benteng untuk lingkungan pabrik. Jika bangunan mengalami perluasan, dinding
panel dapat dibongkar untuk dipasang kembali. Sehingga untuk jangka panjang
dapat lebih hemat.
Sandwich adalah salah satu bentuk dinding panel yang sekarang ini sedang
dikembangkan, dimana pada 2 permukaan panel di tengahnya dipakai bambu
sebagai tulangan pengganti baja. Bentuk ini dipakai karena dapat menghasilkan
dinding panel yang cukup baik. Dilatarbelakangi dari ide tersebut penyusun
tertarik untuk melakukan penelitian pembuatan dinding panel berbentuk sandwich,
dengan membandingkan campuran dengan beberapa variasi bahan tambah di
dalamnya.
Penelitian ini dilakukan juga untuk mendukung beberapa penelitian
sebelumnya, sekaligus menambah pengetahuan kepada masyarakat serta
menjawab keraguan masyarakat tentang pemanfaatan bambu untuk tulangan
dalam dinding panel.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diambil dari penelitian ini adalah seberapa besar
pengaruh campuran mortar dengan bahan tambah yang berupa abu terbang (fly
ash) sisa pembakaran batu bara, mortar dengan bahan tambah abu terbang (fly ash)
dan lem beton serta mortar dengan bahan tambah abu terbang (fly ash) dan
gypsum, terhadap kuat tekan. Dan pengaruh tulangan bambu yang berbentuk
anyaman susun dan anyaman silang terhadap tegangan lentur dinding panel.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi
perbandingan bahan penyusun mortar (pasir dan semen) yang mempunyai kuat
tekan terbaik, serta untuk mengetahui pengaruh beberapa bahan tambah dengan
variasi yang berbeda terhadap kuat tekan. Variasi yang dibuat antara lain mortar
yang diberi bahan tambah abu terbang (fly ash) sisa pembakaran batu bara, mortar
dengan bahan tambah abu terbang (fly ash) dan lem beton serta mortar dengan
bahan tambah abu terbang (fly ash) dan gypsum. Dari beberapa variasi tersebut
diambil mortar dengan bahan tambah yang mempunyai kuat tekan terbaik untuk
dibuat menjadi dinding panel.
Selain tujuan diatas juga untuk mengetahui besar prosentase bahan tambah
yang dipergunakan pada campuran untuk mencapai kuat tekan optimum serta
dengan tulangan bambu terhadap uji lentur dinding panel pada umur 28 hari
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah wujud pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya di bidang teknologi beton dalam bentuk dinding panel
sebagai alternatif pengganti dari batu bata ataupun batako yang memenuhi syarat
kekuatan serta lebih ekonomis dalam penggunaan dan merupakan bukti nyata
bahwa penggunaan dinding panel diharapkan mempunyai berat sendiri yang lebih
ringan untuk digunakan sebagai bahan bangunan non struktural. Selain itu
pemasangan yang lebih mudah dan dengan waktu yang relatif lebih singkat.
Beton ataupun mortar dengan tulangan baja adalah perpaduan yang sangat
baik, karena memiliki kekuatan yang tinggi, sehingga beton ataupun mortar
dengan tulangan baja banyak dipergunakan. Namun hal tersebut menimbulkan
permasalahan baru, yaitu baja yang selama ini dipergunakan merupakan bahan
material yang tidak dapat diperbaharui sehingga keberadaannya suatu saat akan
habis. Untuk itu dilakukan upaya pencarian bahan alternatif pengganti baja, antara
lain material pengantinya yaitu bambu. Bambu merupakan hasil alam yang mudah
diperoleh, murah dan mempunyai kekuatan tarik yang tinggi. Sehingga penelitian
ini diharapkan dapat sedikit menjawab tentang keterbatasan material baja serta
sekaligus menjawab keraguan masyarakat terhadap pemakaian bambu untuk
dipergunakan sebagai tulangan.
E. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti perlu membatasi masalah, yang bertujuan
agar pembahasan tidak meluas dan batasnya menjadi jelas. Adapun yang menjadi
batasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Semen yang digunakan adalah semen portland dengan merk Holcim.
2. Agregat halus yang digunakan adalah pasir yang berasal dari daerah Muntilan.
3. Air yang dipergunakan adalah air yang berasal dari bawah tanah yang tersedia
di Sub Laboratorium Bahan Bangunan, Laboratorium Teknik Sipil Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
4. Untuk menentukan campuran yang paling optimum atau terbaik dilakukan
dengan pengujian coba-coba dengan variasi perbandingan antara semen dan
pasir, yaitu 1 : 2, 1 : 3, 1 : 4, 1 : 5, 1 : 6, 1 : 7, 1 : 8, 1 : 9, dengan masing
masing variasi dibuat masing-masing 3 sampel, dan ukuran 15 x 15 x 15 cm,
serta pengujian dilakukan pada umur 14 hari.

5. Bahan tambah yang dipergunakan adalah abu terbang (fly ash) sisa
pembakaran batu bara, lem beton dan gypsum. Yang mana ketiga bahan
tambah tersebut tidak dilakukan penelitian secara kimiawi.
6. Benda uji dibuat dengan variasi bahan tambah :
Abu batu bara (fly ash) : 12,5%, kadar optimum (berdasarkan penelitian
Intan A R N dan Wahyu A, 2007)
Lem beton : 0%, 5%, 7%, 9%
Gypsum : 0%, 5%, 7%, 9%
Benda uji berbentuk kubus, dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm, setiap variasi
bahan tambah dibuat masing-masing 3 sampel. Pengujian beton kubus
dilakukan pada umur 14 hari.
7. Faktor air semen (f.a.s) yang digunakan adalah 0,6.
8. Tulangan bambu yang dipergunakan adalah dari jenis bambu apus/tali
(Gigantochloa apus Kurtz), dengan ukuran (2 x 0,2) cm dengan panjang 28
cm dan 88 cm.
9. Benda uji untuk pengujian kuat tarik bambu mempergunakan sampel sebanyak
5 buah
10. Benda uji untuk pembuatan dinding panel dengan ukuran (90 x 30 x 5) cm
sebanyak 10 sampel. Dengan bentuk tulangan masing-masing 5 buah
berbentuk anyaman susun dan 5 buah berbentuk anyaman silang. Pengujian
lentur dinding panel dilakukan pada umur 28 hari.
F. Keaslian Penelitian
Pada penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Joko Widodo (2007)
dengan memodifikasi dinding panel dengan menambahkan beberapa bahan
tambah, yaitu Polyvinyl Acetat dan sisa serat aren. Pembuatan benda uji dengan
ukuran (40 x 30 x 5) cm, (60 x 30 x 5) cm, (80 x 30 x 5) cm dan (100 x 30 x 5) cm,
dan memakai bambu sebagai tulangan.
Sedangkan dari penelitian Pardi (2007) melakukan penelitian dengan
memodifikasi dinding panel yang berbentuk Sandwich. Campuran yang
dipergunakan antara lain terdiri dari Calsibot, pasir batu apung dan kayu
berbentuk papan tipis, setebal 2 cm dan lebar 4,5 cm, digunakan sebagai klem.
Dengan menambahkan tulangan yang terbuat dari bambu. Dan ukuran benda uji
adalah (100 x 50 x 5) cm.
Sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang adalah dengan mencari
komposisi campuran mortar yang memiliki kuat tekan terbesar. Kemudian
komposisi campuran mortar yang memiliki kuat tekan terbesar dikombinasikan
dengan beberapa variasi bahan tambah. Variasi yang dibuat antara lain mortar
yang diberi bahan tambah abu terbang (fly ash) sisa pembakaran batu bara, mortar
dengan bahan tambah abu terbang (fly ash) dan lem beton serta mortar dengan
bahan tambah abu terbang (fly ash) dan gypsum. Dari beberapa variasi campuran
mortar tersebut akan diteliti campuran mana yang terbaik untuk dibuat sebagai
dinding panel dengan melakukan beberapa rangkaian pengujian. Setelah diperoleh
campuran terbaik maka campuran mortar tersebut dikombinasikan dengan
tulangan berupa bambu apus/tali (Gigantochloa apus Kurtz) untuk dibuat dinding
panel, yang bertujuan untuk meningkatkan tegangan lentur dinding panel tersebut.
Tulangan yang digunakan ada 2 variasi bentuk, yaitu berbentuk anyaman susun
dan anyaman silang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar